Monday, May 2, 2011

The Last Letter


Di suatu masa ketika kenangan di lupakan..



Aku berdiri menatap wajahnya, entah mengapa bagiku, raungan suaranya masih jelas terdengar. begitu merdu di telinga, kata-kata dan celotehnya yang setiap hari kudengar, tawanya yang khas, cerminan kenahagian yang terus menerus menyuntikku untuk selalu terlihat semangat di depannya. kini sedihku melanda kala harus bisa aku melupakan semua yang menjadi pijakan sesaat hidupku.

dengan terpaksa aku menulis surat kepada Bima, orang terdekatnya. Dengan alasan, sebenarnya aku ingin dia tahu bahwa, aku benar-benar mencintai gadis itu, aku ingin dia sadar betapa sangat berarti gadis itu bagiku. mungkin dengan surat ini, masih terbuka jalan agar aku bisa menggapai mimpiku bersama cahaya hidupku itu.

"bima sahabatku, maafkan aku setelah selama ini sudah berbuat jahat kepadamu. aku sangat mencintai gadis itu, dia adalah kado di dalam mimpiku. dia adalah sumber kebahagian dalam hidupku. betapa aku sangat mencintai gadis itu. Tolong bila kamu benar-benar sayang padanya, cintai dia melebihi cintaku, sayangi dia melebihi sayangnya dirimu sendiri, jangan engkau sakiti hatinya.

Aku tidak memaksa hati, tapi aku juga tidak bisa menahan kerinduan yang amat sangat menyiksaku. engkau pernah berkata padaku, engkau hanya bermain-main dengannya. engkau pernah berkata padaku engkau akan membantuku untuk menggapai cintaku kepada gadis itu. sahabatku, bila engkau tidak sungguh2 tolong kembalikan cintaku, bila engkau sayang padanya sayangilah dia dengan penuh. Sungguh aku begitu mencintai gadis itu, tak ingin melihatnya berwajah muram, dan bersedih."

kukirim kan surat itu dengan rambatan air mata yang berjatuhan. air mata itu mengalir deras di kala ku tautkan setiap huruf yang tertulis, dalam huruf itu terpapar jelas kenangan masa indah bersama gadis yang kucinta, kenangan bermain dengannya, kenangan mencium aroma parfum rambutnya, kenangan celotehan tawa dari wajahnya, sungguh bagiku tak ternilai semua kenangan itu.

surat yg ku kirim akhirnya terbalas, tak banyak yang tertulis, pesannya hanya berbunyi seperti ini.


"maafin gw sob, ini semua terjadi diluar kemampuan gw sebagai manusia.. rasa itu tiba-tiba datang ke kita berdua, gw butuh dia sob, gw juga suka sama dia. gw ga pernah punya niat buat nyakitin perasaan loe, lu juga sahabat bagi gw. semua ini berawal dari kepura2an dan permainan bodoh kita berdua, yang tanpa kita berdua sadari kita terjebak di perasaan masing2. aneh emang tapi gw juga cuma manusia biasa yang ga bisa berbuat apa2 ketika dihadapkan oleh perasaan. ga ada niat buat nyakitin perasaan loe. lu musti iklas dan rela sama hubungan kita berdua. Bima"

Aku terdiam, tertegun, air mata ini jatuh bersama bergetarnya tanganku. aku tak bisa bernapas, setiap kata-kata yang tertulis begitu menyesakan dada. betapa mereka sudah bermain-main dengan perasaanku, yang tanpa aku sadari, aku adalah sampah dari sebuah produk bernama cinta. dadaku terasa sesak, perih yang kurasa hinggap hingga benar-benar menjadi perih yang sebenarnya. dadaku tersa sakit, aku terjatuh. aku tak bedaya. sekujur tubuhku terasa lemah, dengan menahan sakit di dada. aku merasa sangat dingin, mataku terpedam, semua gelap bagiku, yg ada di otakku hanya bayangan wajahnya. lalu gelap kemudian.

****