Sunday, April 1, 2012

Aku Bukan Siti Nurbaya

Sebuah waktu dimana cinta adalah takdir, dimana aku berharap, atau mungkin terlalu berharap. Andai aku sebuah pandawa waktu, dentuman takdir tak akan hadir seperti ini.















Namaku Asti, panggil aku ash. Aku perempuan muda, iya bahkan karena aku masih muda, aku belum fasih melafal kata cinta. tapi aku tahu, aku tahu cinta itu apa. Cinta, seperti angin, tidak bisa dilihat hanya bisa dirasakan. Tidak dapat disapa namun bisa menusuk tubuhku, melancarkan sebuah suhu dingin, menembus rasa kesepian. Rasa sendiri, setidaknya bagiku.

Aku lahir di bali, 20 tahunan yang lalu. Mempunyai wajah berciri khas perempuan bali lainnya, wajah eksotik. Itu kata mereka, ah tidak. aku hanya manis. perpaduan budaya kental bali, dengan khas bola mata yang bulat, di iringi sosok kemayu. Menurutku itu. Coba saja sini kamu aku lihat dengan mataku, patung pasti kalah tegap dengan dirimu.

Aku suka warna merah, bukan karena merah itu berani, tapi karena merah itu eksotik, persis seperti sebutan mereka kepadaku. Dibanding dengan sikap berani, aku lebih memilih untuk mengalah, karena aku suka keheningan. Aku ingin damai, serasa hatiku sudah cukup bising dengan suara-suara cinta yang mengaduh mencari tempat perlindungan.

Sebagai sosok perempuan bali, aku suka sekali keindahan, aku penikmat rasa. Dan sedang menanti sebuah kesempurnaan hadir di hidupku. Aku, aku adalah perempuan biasa, tidak kurang dan tidak lebih. Yang lebih dariku hanya satu, aku masih belum menemukan kekurangan dari dalam hidupku, satu hal yang akan membuat hidupku mungkin sempurna, aku belum menemukan kamu, Cinta.

Aku Asti, Aku bukan siti nurbaya
Andai saja aku bisa bertemu dengan Marah Rusli pasti dia tahu bagaimana rasanya aku menjadi bagian dari satu cerita yang dia buat puluhan tahun lalu. Iya, sebuah cerita klasik, cerita tentang gadis yang di jodohkan dengan lelaki kaya. Aku, ah aku hanya mendekati kisahnya saja, belum tentu aku seperti dia, tidak, masih ada kesempatan bagiku.

Ah, beruntungnya Siti Nurbaya, setidaknya walau tubuhnya terjebak pada takdir dijodohkan dengan seorang laki-laki yang tidak di kenalnya, namun jiwa dan hatinya terpaut kepada laki-laki yang sedang berusaha untuk merebutnya. Menjauhkan dirinya dari perjodohan laknat itu. Aku, jangankan di perebutkan. Ini saja belum ada yang sentuh, belum pernah aku disentuh dibagian yang ini. Hatiku.

Kamu beruntung nur, kamu di perebutkan orang yang kamu cinta, walau hanya cerita epic, seperti romeo dan juliet, tapi kamu beruntung nur. Kamu punya sosok seperti Samsulbahri, yang mencintai kamu dan berusaha menolongmu nur, pria yang berani.

Andai cinta seperti kopi, aku mungkin akan pandai dalam urusan ini. Seperti yang aku bilang, aku ini penikmat rasa, aku paling tahu apa yang cocok buat diriku ini. Namun sayang cinta adalah angka ganjil bagiku, tak bisa aku genapkan 2 tubuh menjadi 1 jiwa.

Dalam hitungan waktu, dan tidak akan lama, aku akan menjadi seorang istri. Aku akan punya suami yang belum aku kenal seluruhnya. Andai saja ada kompeni berambut pirang datang menolongku, ah tidak, aku butuh sosok Samsulbahri. Atau mungkin, sosok itu ada di dalam calon suamiku kelak?