Tuesday, August 10, 2010

The Girl With A Red Back (capter 1)

di dalam kamar pribadi setelah 15 jam berada di luar rumah
Pukul 03.10 PAGI hari di tanggal 10 - 08 - 2010 masih berfikir ABG


ini adalah salah satu capter novel saya. silakan di baca, gratis.


Prolog
(entah apa artinya kata diatas, yang penting terlihat keren)

Chapter 1
Arti Sebuah Keluarga


Namaku Yudistira, Yudistira Hitaro lengkapnya. Sedikit aneh memang dengan namaku yang mengandung unsur 2 nama yang yang berbeda. Yudistira dan Hitaro, hitaro di ambil dari nama ayahku Hidaeki Hitaro, walau bukan tokoh hebat dari serial TV “kesatria baja hitam”, dan mempunyai kekuatan super melawan gorgom, ayahku mempunyai persamaan, dia useorang warga negara Jepang. sedangkan nama yudistira di berikan ibuku, ibu saya seorang pribumi asli yang bernama Sulastri Ayuningsih.

Beliau sangat cantik sepertiku, namun karena aku seorang pria, maka hanya disebut sedikit mempunyai kemiripan saja. Ibuku Keturunan 2 suku yang berbeda, betawi dan sunda. Keluarga ibuku termasuk keluarga yang kolot, pada saat ibuku seusiaku, mereka ingin anak gadisnya yang masih perawan, menikah dengan pria keturunan pribumi, seorang warga negara Indonesia yang kaya seperti datuk maringgi, atau paling tidak menikah dengan anak seorang pejabat dan itupun pilihan mereka.

Aneh memang, sinetron Siti Nurbaya mungkin kala itu belum ada, tapi ibu saya sempat hampir mengalami kisahnya. Di dalam keadaan terdesak oleh tekanan dari berbagai sudut, mereka akhirnya menikah, namun keluarga ibuku tidak merestui pernikahan mereka, dan akibat hal itu pula akhirnya ayah dan ibu bercerai, saat itu aku berumur 2 tahun 6 bulan. Tak lama setelah itu Ayah kembali ke jepang, dan ibu mendapatkan hak asuhnya terhadapku. Namun sayangnya 6 tahun kemudian ibu meninggal karena penyakit komplikasi dan kelainan jantung.

Dari kecil memang ibu saya mengidap penyakit tersebut, aku tak pernah mengerti waktu itu ketika ibuku setiap harinya minum obat padahal dia tidak sakit, waktu itu katanya dia meminum permen, tapi kalau benar itu permen mengapa aku tidak boleh memakannya pula. Ibuku sangat kuat, dari segi fisik terlhat sangat tegar, mengeluh sakit saja jarang, bahkan tidak pernah ku dengar ibu meminta tolong kepada orang lain untuk menggantikannya mengurusku.

Pernah sesekali saya menggunting rambut seorang anak kecil gara-gara saya tidak suka kepangnya. Atau bahkan berantem dengan anak laki-laki kelas 6 SD. Sewaktu upacara bendera, anak itu aku lempar ke halaman sekolah setelah dia memegang-megang pantatku. Ibuku hanya geleng-geleng.

Dia berkata “besok-besok jangan lempar anak orang ke halaman sekolah” dengan nada kesal.
“lain kali lempar ke saja ke kali atau sungai yang dalam”. Ujarnya dengan senyuman khasnya yang cantik
Aku manggut-manggut

Di hari-hari bersamanya beliau terus saja memberikan senyuman yang mendalam kepadaku, walau tak sedalam sumur di rumah kakek. Senyuman-nya seperti isyarat bahwa seumur hidup ia mempunyai semua kebahagian karena memilikiku. Dan senyumnya adalah senyum pesona seorang wanita, bukan senyum wanita jadi-jadian di taman lawang. Senyumnya adalah kasih sayang seorang ibu. Sebuah pesan kecil yang mengartikan bahwa ibu saya mempunyai senyum kebahagian yang indah.

***

Setelah ibuku meninggal, aku tinggal dengan orang tua ibuku, kebetulan kedua orang tua ibuku hanya mempunyai 2 orang anak, yang pertama om hendrawan lalu kemudian ibuku. Mirip keluarga KB (keluarga berencana). Walaupun pada saat jaman-nya, slogan sosial yang ada adalah banyak anak banyak rejeki. Secara harfiah dalam tata bahasa indonesia yang tidak baku, mengandung arti “bikinlah anak yang banyak setiap hari”.

Om hendrawan sudah berkeluarga dan menetap di Bandung. Maka mau tidak mau aku menemani kakek dan nenek. Kehidupan keluarga kakek dan nenek tidak begitu mewah, malah sederhana. Kami tinggal di kampung bernama utan hilir, pinggiran Kota Jakarta. Tidak begitu kampung, tapi yang penting masih dianggap satu wilayah dengan Kota Jakarta.

Keluarga Yahya Usmaini, begitulah tulisan di papan pagar rumah, yang secara langsung menunjukan nama pemilik tuan rumah, tulisan itu berdampingan dengan nomor rumah saya. itulah salah satu ciri khas kakek. Yang serasa ingin menunjukan siapa nama dari pemilik rumah sederhana ini, yang bukan hanya dari nomor ataupun tipe rumah dengan berbagai tipe, gaya, dan warna. Kakek pernah bilang untung memiliki papan nama itu adalah agar keluarga kita bisa di kenal warga. Yups, benar sekali. Terkenal dengan mudah tanpa harus ikut-ikut audisi, atau bikin pengumuman di mushola atau masjid-masjid terdekat.

Walaupun saya tinggal di pinggiran kota jakarta saya tidak pernah mengeluh atau merasa terkucilkan. Percaya diri! itulah semangat saya. Tinggal di kampung malah menyehatkan saya karena tidak setiap hari menghirup kotornya udara jakarta yang penuh dengan timbal-timbal dari asap segala kendaraan yang lalu lalang merayap seperti tak ada habis-habisnya.

Dan seperti kata kak seto dan si komo, kota Jakarta itu identik dengan kemacetan. Banyak lampu merah, banyak simpangan jalan, banyak gadis-gadis berambut pirang, juga tante-tante pesolek mencari kesenangan dan kegirangan, plus wanita karier ber-rok pendek. Untuk yang terakhir saya suka itu.

Kakek dan nenek saya sudah tua. Di usia mereka yang bersaing dengan pergolakan pembangunan gedung-gedung pencakar langit, di tambah kisruh politik dalam negeri yang berteriak mengatas namakan kesejahteraan rakyat, dan isu-isu sosial maupun hukum, yang menjelma bak sebuah drama kumbara dimana alurnya berbalik “yang jahat yang menang, dan yang baik yang kalah”, itu semua sebuah tontonan monoton yang menemani lembar kisah antara kakek dan nenek.

Hal-hal itu menjadi sebuah pengalaman penting sebagai pembelajaran hidup. Kakek dan nenek telah berusaha mengubah sudut pandang mereka, dari sudut pandang orang tua yang kolot, jadul, dan pandangan yang mengutamakan wejangan keluarga atas leluhurnya. Namun, kini mereka menjadi orang tua yang ber-demokrasi. Dan ber-azaskan pancasila, serta mengutamakan musyawarah sebagai cara agar tercipta kata mufakat.

Bagi mereka sekarang adalah memberikan pilihan untukku dalam memilih hidupku, dengan tata cara yang mereka ajarkan. Apalagi setelah ibu tiada, kasih sayang mereka kepadaku begitu besarnya. Dan akibat kasih sayangnya, mereka memberikan aku pelajaran hidup untuk selalu disiplin, bertanggung jawab, dan mempunyai moral kehidupan yang bermartabat. Ajaran agama yang kuat yang mereka tempakan di dalam jiwaku, untuk kelanjutan hidupku nanti. Dan berkat ajaran mereka, saya terhindar dari pengaruh negatif lingkungan sekitar. Banyak pemuda muda belia, perjaka-perjaka kesukaan tante-tante muda yang bahkan umurnya di bawahku. Mereka sudah mengenal rokok, minuman keras, dan nongkrong-nongkrong di persimpangan.

Bagai masa depan mereka masih sangat jauh untuk di pikirkan dan sudah dapat diprediksikan seperti layaknya seorang peramal, yang sering muncul di TV berusaha untuk mengajak pria dan wanita yang mempunyai telepon genggam untuk menyalurkan pulsanya.

Mereka menganggap bakal berujung seperti orang tua mereka kelak, tanpa memikirkan “ikhtiar” dahulu sebelum menyerah pada keadaan, jadi ingat lagu band D’masiv. Aku tidak menjauhi mereka, atau berusaha untuk mentiadakan keberadaan mereka, justru jika membuat mereka menjadi “antara ada dan tiada” malah membuat saya jadi merinding. Masa saya punya teman berwujud mahluk halus, atau sebangsa Jin. Ah tidak, janganlah.

Bagiku mereka adalah temanku walau bagaimana keadaannya, rupanya, atau bahkan kebiasaannya. Tak sedikit dari mereka adalah temen saya semenjak SD kelas 4, semisal Tono (nama samaran) yang dari dulu senangnya bermain dengan anak perempuan di sekolah. Dan 8 tahun kemudian dia bilang kepadaku bahwa dia adalah gay, seorang pria homoseksual.

Entah apakah homoseksual bersaudara dengan homo sapiens. Malah kadang aku masih berfikir megantrophus erektus apakah seorang pria yang selalu ereksi. Who know’s. Yang pasti jika saya bertemu dengan Tono, paling tidak aku menghindari pelukan-pelukannya saja, suatu kebiasaan Tono bila kami bertemu. Kadang pelukannya, dilakukan bersamaan dengan suara desahan. Itu benar-benar menggangguku.

Kisah mereka bagiku adalah pelajaran berharga dari sebuah keluarga yang utuh namun menyerah pada kondisi maupun keadaan. Menurunnya moralitas untuk hidup disiplin dan berfikir secara rasional. Mengutamakan kebebasan berkehendak tanpa mengikuti norma. Mungkin, ini adalah sebagian kesalahan atau kelalaian orang tua yang minim sekali memberikan perhatian kepada anak-anak mereka, tak sedikit dari mereka memakai sebuah alasan halus yaitu karena hidup mereka kurang secara materi, dalam arti harfiah yang saya anggap kasar, itu semua karena faktor kemiskinan.

***

Sent from BlackBerry® Kreditan!

5 comments:

ieo said...

@_@ panjang banget postingannya, masih mencoba membaca :)

Jimmy Yulius Kokong said...

ga usah di baca bang.. ^_^ ngebosenin

thya said...

jimon, ini kisah lo atau kisah tetanggal lo,,?

Jimmy Yulius Kokong said...

hehehe cuma cerita aja thy .. not a fact.. eh dikit2 sih ada whahaha

wi3nd said...

ada kisah jimmon yah disini?


dimixed sama sama beberapa kehidupan kota jakatra yang memang demikian adanya..

*halah! ngomong opo tok si wiend..

jimmon,sukanya pembaca mengambil kesimpulan sendiri yah disetiap cerpennya?